Ayah tidak pernah bilang dia khawatir.
Tapi setiap saya pulang malam, dia akan tanya, "tadi lewat mana?" Besoknya ditanya lagi, pertanyaan yang sama, seolah belum pernah saya jawab.
Waktu kecil saya pikir itu karena beliau pelupa. Sekarang saya mengerti, itu caranya menjaga tanpa perlu bilang "saya khawatir sama kamu."
Ayah saya bukan orang yang gampang cerita perasaan. Generasinya memang begitu, sepertinya. Khawatir diterjemahkan jadi pertanyaan teknis. "Sudah makan?" "Bawa jaket?" "Motornya diservis kapan terakhir?"
Saya baru sadar itu setelah saya sendiri jadi ayah. Saya menemukan diri saya menanyakan hal yang sama ke anak saya, berulang-ulang, padahal saya tahu jawabannya. Bukan karena saya butuh informasinya. Cuma butuh mendengar dia baik-baik saja, sekali lagi.
Mungkin nanti anak saya juga akan berpikir saya cerewet. Tidak apa-apa. Saya sepertinya memang mewarisi cara ayah menyimpan khawatir — lewat pertanyaan, bukan lewat kalimat.