Saya orang yang suka bikin rencana. Rencana kerja, rencana akhir pekan, bahkan rencana liburan yang masih setahun lagi.
Jadi waktu rencana itu berantakan, saya butuh waktu lebih lama dari orang lain untuk ikhlas.
Bulan lalu ada rencana yang sudah saya susun rapi, ternyata gagal di hari terakhir karena hal yang sama sekali di luar kendali saya. Reaksi pertama saya bukan sedih. Reaksi pertama saya kesal, karena rencananya sudah bagus.
Butuh sehari penuh untuk saya sadar, saya lebih sayang sama rencananya dibanding sama tujuan awal kenapa saya bikin rencana itu.
Sekarang saya masih suka bikin rencana. Cuma saya coba pegang lebih longgar. Rencana itu peta, bukan rel kereta. Boleh belok kalau memang harus.
Belum lancar juga sih praktiknya. Tapi setidaknya saya sudah tahu masalahnya di mana.