Ada masa ketika saya merasa semua hal harus punya tujuan. Sekolah. Kerja. Uang. Bahkan waktu luang.

Kalau tidak tahu mau ke mana, rasanya seperti tertinggal. Padahal mungkin, tidak semua perjalanan butuh tujuan yang jelas. Mungkin ada beberapa hal yang justru terasa cukup tanpa rencana.

Di kantor, semua orang bertanya, "target-nya apa?", "goal-nya ke mana?" Pertanyaan yang wajar. Tapi lama-lama saya bawa pertanyaan itu ke luar kerjaan. Ke akhir pekan. Ke obrolan sama istri. Ke cara saya menghabiskan Minggu pagi.

Beberapa minggu lalu saya menyetir tanpa tujuan setelah magrib. Tidak ke mana-mana yang penting. Cuma muter-muter, lewat jalan yang biasanya cuma saya lewati waktu buru-buru. Anehnya, itu salah satu sore paling tenang yang saya punya bulan ini.

Saya sempat berpikir, kenapa harus ada alasan untuk itu. Kenapa "jalan-jalan tanpa tujuan" terasa seperti sesuatu yang perlu dijustifikasi, seolah waktu cuma sah dipakai kalau menghasilkan sesuatu.

Belakangan saya mulai belajar untuk tidak tahu ke mana. Dan ternyata, rasanya tidak seburuk itu. Ada ruang yang muncul waktu berhenti mengejar arah. Bukan kosong. Cuma lebih lega.

Saya belum tahu apakah ini akan bertahan lama. Mungkin minggu depan saya akan kembali sibuk membuat rencana untuk segala hal. Tapi untuk sekarang, saya sedang menikmati tidak tahu ke mana saya pergi.