Saya tahu persis akibatnya kalau minum kopi jam empat sore. Saya juga tetap melakukannya, hampir setiap hari.

Ada semacam kenikmatan kecil yang tidak masuk akal soal kopi sore. Rasanya lebih tenang dibanding kopi pagi. Kopi pagi itu buru-buru, harus segera menyala biar bisa mulai kerja. Kopi sore lebih santai, ditemani cahaya yang mulai miring dan meja yang mulai sepi.

Konsekuensinya baru muncul jam sebelas malam, waktu saya masih melek sambil menatap langit-langit kamar, menyesali keputusan jam empat sore tadi.

Tapi besoknya, jam empat sore lagi, saya bikin kopi lagi. Bukan karena saya tidak belajar. Cuma karena rasanya sepadan.

Mungkin ini bukan soal kopi. Mungkin ini soal betapa jarangnya saya memberi diri saya sendiri jeda sepuluh menit di tengah hari, dan kopi cuma jadi alasan yang paling gampang.