Waktu kuliah saya cukup yakin tahu pekerjaan apa yang akan saya cintai. Ternyata saya cuma yakin sama bayangannya, bukan sama pekerjaannya sendiri.
Saya bayangkan diri saya duduk di ruangan penuh ide, semua orang antusias, hasil kerja langsung kelihatan dampaknya. Kenyataannya lebih banyak menunggu persetujuan, revisi yang ketiga kalinya, dan rapat yang sebenarnya bisa jadi satu pesan singkat.
Bukan berarti saya benci pekerjaan saya sekarang. Cuma tidak seindah yang saya bayangkan waktu masih dua puluh satu tahun dan belum pernah benar-benar bekerja.
Yang saya syukuri, ternyata cinta sama pekerjaan itu tidak harus datang dari hal besarnya. Kadang datang dari hal kecil. Dari satu ide yang akhirnya jalan setelah dicoba berkali-kali. Dari rekan kerja yang bikin hari berat jadi lebih ringan karena satu candaan pas waktunya.
Saya sudah berhenti mencari pekerjaan yang "sempurna sesuai bayangan." Sekarang saya cuma mencari alasan kecil untuk tetap suka, satu per satu, tiap hari beda-beda alasannya.
Mungkin itu lebih realistis. Atau mungkin saya cuma sudah lelah berharap terlalu tinggi. Entahlah.